MUI tertanggal 22 Maret 2010 telah mengeluarkan fatwa tentang perubahan arah kiblat shalat untuk muslim di Indonesia yang berubah dari arah Barat menjadi Barat Laut.
Dengan adanya fatwa tersebut tidak sedikit masyarakat yang merasa bingung atau pusing, ada muncul opini untuk bongkar Masjid (wow…ekstrim banget
) dan ada juga yang merasa ragu dengan dikeluarkannya fatwa tersebut.
Munculnya fatwa MUI ini ditanggapi dengan alasan yang berbeda-beda. Ketua MUI Bidang Fatwa, Ma’ruf Amin mengatakan bahwa kiblat shalat di Indonesia berubah karena Indonesia itu letaknya tidak di Timur pas Kabah tapi agak ke Selatan, jadi arah kiblat kita juga tidak Barat pas tapi agak miring yaitu arah Barat Laut. Sedangkan menurut Pakar Astronomi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Prof. Dr. Thomas Djamaluddin mengatakan masalah ketidakakuratan arah kiblat yang terjadi pada banyak masjid, bukanlah masalah pergeseran lempeng bumi, tetapi karena ketidakakuratan pengukuran pada awal pembangunannya. “Kesalahan satu derajat di Indonesia yang berjarak sekitar 8.000 km dari Mekkah, bisa menyebabkan penyimpangan besar, sekitar 140 km pada jarak tersebut”, terangnya.
Namun, kita sebagai masyarakat muslim di Indonesia tidak perlu risau dengan adanya perubahan arah kiblat ini. Ada beberapa cara untuk menentukan arah kiblat yang tepat dan akurat.
Cara pertama, dengan menggunakan panduan matahari dan pakar ilmu falak tapi sayangnya bagi sebagian besar kalangan masyarakat cara ini masih cukup rumit.
Cara kedua, menggunakan kompas. Khusus cara ini tingkat ketepatan arah dan akurasi masih dipertanyakan.
Cara ketiga, memanfaatkan piranti peta digital. Untuk hal ini kita bisa menggunakan QiblaLocator. Aplikasi QiblaLocator adalah buatan Hamed Zarrabi Zadeh bersama Ibn Mas’ud, peneliti asal Universitas Waterloo di Ontario, Kanada. Aplikasi ini memanfaatkan piranti peta digital milik Google. Dengan Qibla Locator yang berbasis Google Earth ini dapat diketahui arah kiblat dari mana pun umat berada. Kendati memanfaatkan piranti teknologi, aplikasi ini juga memperhitungkan perhitungan astronomi berdasarkan bayangan matahari. Pada saat itu matahari yang tampak dari semua penjuru Bumi dapat dijadikan penunjuk lokasi Kabah. Begitu pula bayangan benda tegak pada waktu itu, juga dapat menjadi menentu arah ke kiblat.

Untuk cara penggunaan QiblaLocator cukup mudah. Layaknya pengoperasian peta digital Google, pengguna cukup memasukkan nama lokasi, alamat atau nama jalan, kode pos, dan negara atau garis lintang dan garis bujur. Setelah dimasukan, otomatis sisi kanan gambar peta akan muncul besaran arah kiblat atau kabah dan jaraknya dari titik lokasi yang kita masukkan.
Selain penggunaannya yang mudah, aplikasi ini penggunaannya juga gratis alias tidak berbayar. Bagi umat muslim bisa mengakses aplikasi ini melalui QiblaLocator.com.
Sumber:
- MUI
- Republika.co.id

Recent Comments